Aku dan Saya

Hahaha, saya ingin memulai tulisan ini dengan tertawa. Mungkin jika ada yang membaca, kalian akan melihat ketidakkonsistenan penggunaan 'aku' dan 'saya' dalam setiap tulisan. Saya sendiri baru menyadarinya sekarang.

Mood. Kata itu sangat berpengaruh pada setiap aktivitas yang saya lakukan. Termasuk pada saat menulis. 'Aku' akan digunakan ketika ada sesuatu yg berkecamuk dalam pikiran atau dalam hati, ketika menuliskan kegelisahan atau curhat-curhat tersirat. Sedangkan 'Saya' digunakan ketika ada kenyamanan yang ingin saya tuangkan ke dalam tulisan atau hal-hal yang saya sudah berdamai dengannya.

Selain alasan itu, ada tulisan yang hanya sesuaikan nadanya ketika menggunaka 'aku' atau 'saya'.

Terima kasih

Nikmati

Tekad bulat menuju jalan panjang
Yang berkutat tak pernah tenang
Diralat, ditentang
Dibuat dengan bersenang-senang
(Jogja, 30 November 2016)

Siapa punya mimpi
Siapa yang miliki
Mimpi untuk orang-orang yang berlari
Tak tidur dan terus berapi
Mencari dengan hati
Untuk bisa digapai
Ditempat yang paling tinggi

Mimpi berteman malam bukan berarti kelam
Beribu jalan sudah disulam, bersiap menuju makam
(Jogja, 24 November 2016)

Pagi ini masih ku cari
Aku yakin masih disini
Berharap sesuatu yang pasti
Aku tak akan lari
Aku punya mimpi
(Jogja, 24 November 2016)

Hahaha

Ah sial, ini apa?
Perasaan ini tak bisa diterka
Dicaripun tak akan jumpa
Aku tak ingin hidup merana
Yang isinya hanya tanda tanya
Ingin mati saja?
Hahaha,
Aku tidak seperti mereka
Yang suka kabur ke alam baka
(Jogja, 24 November 2016)

Makassar

Siang hari yang sangat panas. Hari ini adalah hari ke-10 saya berada di kota ini, Dan sekarang menjelang pukul 2 siang.

Makassar..

Dulu saya sangat ingin mengunjungi kota ini. Sejak kecil sepasang kuping yg tumbuh di kepala selalu saja siap menampung cerita tentang Makassar. Ada versi saya sendiri tentang kota `bambang' ini dan itu sangat sejuk dengan taman-taman dan bukit-bukitnya indah. Gambaran ini terus melayang dan tumbuh dalam otak.

Akhirnya, harus selalu ada sisi yang dinikmati dari setiap perjalanan. Termasuk waktu yang membawa seorang anak yg selalu punya khayalan dan harus menghadapi kenyataan. Setiap hal yang diciptakan Tuhan akan terus hidup, berkembang dan berubah.

Kota ini, saya harus hidup minimal 3 bulan disini. Dirumah seorang kawan bernama Didit, bersama Mama dan Papanya. Setiap malam kakak-kakaknya bersama istri dan anaknya akan datang untuk makan malam bersama. Dan saya senang berinterkasi dengan mereka. Saya suka ketika diterima oleh orang lain. Skip..

Kota ini unik, kota yang berjalan khidmat dengan aturan tak tertulis agar bisa bertahan di jalan raya. Bukan , bukan bertahan, tapi bisa terlepas dari jeretan jalan raya. Disini bukan saja macet, tapi jika intuisimu mati kamu aka terjebak selamanya, mungkin juga mati.

Entahlah.. Sepertinya akan ada banyak cerita dari kota ini jika saya konsisten untuk menuliskannya.

Wanita Idaman

Kenapa judulnya begitu? Karena aku laki-laki. Hahaha

Setiap orang mau itu laki-laki atau perempuan memiliki sosok ideal yang dia harapkan untuk menjadi pasangannya. Lalu apakah semuanya akan sesuai? Ya tergantung kesabaran dan keberuntungan yang dia punya.

Kalau ada yang bertanya wanita idaman ku seperti apa, akan aku jawab dengan cepat dan sederhana, cerdas. Kalau dijabarkan akan sangat panjang dan membosankan, dan tentu saja akan dijelaskan dengan sangat klise. Kenapa begitu? Ya karena semua laki-laki tentu saja menginginkan ini.

Tapi jujur saja aku merasa malas untuk menjelaskan jadi langsung ke intinya saja. Cerdas yang aku harapkan adalah wanita yang cerdas membuat laki-lakinya merasa nyaman.